Fungsi Teknologi di Tangan Mahasiswa

Mahasiwa selalu identik dengan sebutan Agent of Change. Generaasi muda penerus bangsa inii memang punya tugas berat di pundaknya. Para intelektual muda ini dituntut memiilik kompetensi dan kemampuan lebih dibanding mereka yang tidak menempuh pendidikan tinggi. Generasi yang diiharapkan mampu membawaIndonesia ke arah yang lebih baik.
Dengan predikat dan beban yang dipikulnya tersebut. Mungkin yang terlintas dibenak kita tentang mereka hanyalah…belajar..belajar…dan belajaar… di satu sisi hal tersebut memang benar adanya. Padatnya jadwal kuliah daan beragam kemampuaan yang harus dikuasai menuntut mereka unrtuk terus belajar.
Perkembangan tekknnlogi yang kian maju, untutungnya turut membantu para intelektual muda ini. Komputer misalnya, teknologi yang pada awalnya diiciptakan hanya sebagai mesin hitung ini, telah menjelma menjadi teman setia para mahasiswa dalam mengerjakan tugas. Belum lagi alat komunikasi seperti handphone. Di tangan kreatif mahasiswaa, alat komunikassi mungil ini digunakan sebagai alat bertukar informasi mengenai jadwal kuiiah maupun masuk tidaknya seorang dosen. Belum lagi teknologi abad 20 yang satu ini. Internet namanya, teknologi yang mampu memangkas jarak dan waktu ini juga menjadi jendela ilmu yang acap kali dimanfaatkan para mahasiswa dalam mencari referensi untuk menyelesaikan tugasnya.
Beragam tekknologi tersebut jelas sangat membantu mahasiswa dalam mengemban amanahnya untuk menyerap llmu sebanyak mungkin. Keadaan tersebut tentu sangat jauh berbeda dengan para mahasiswa di era 80/90 an. Jangankan mencari referensi tugas melalui internet, buku-buku pun pada saat itu masih sangat terbatas. Jadi bisa dibayangkan betapa terbantunya tugas mahasiswa jaman sekarang.
Namun ironisnya, Keadaan serba mudah tersebut tertnyaata tidak dimanfaatkan oleeh para mahaasiswaa jaman sekarang untuk tujuan yang positf. Sebagai contoh, banyaknya materi perkuliahan yang bisa didownload melalui teknnologi internet, ternyata digunakan mentah-mentah oleh para mahasiswa yang males sebagai tugas perkuliahan, bukan sebagai bahan referensi. Budaya tersebut lah yang kemudian dikenal dengan istilah copy paste. Celakanya cara tak terpuji ini bahkan tidak hanya memanfaatkan teknologi internet. Kebaikan dan apa yang katanya disebut sebagai solidaritas juga dimanfaatkan oleh mereka yang males.
Selain budaya Copiy Paste yang kian menjasmur dikalangan mahasiswa. Handphone pun juga disalahgunakan. Fitur sms (Sort Message Service) yang ada didalamnya, kini digunakan sebagai alat ukur untuk tidak masuknya mereka ke kelas perkuliahan, sebagi contoh, jika mereka tidak mendapatkan sms yang menyatakan bahwa dosen mata kuliah yang bersangkutan sudah masuk, maka mereka tidak akan dating ke kampus. Jika meskipun ada sms tersebut, dipastikan dosen tersebut sudah masuk, dan tentunya mereka akan telat. Kenyataan ini menurut saya sangat miris, mahasiswa yang seharusnya bersikap disiplin. Untuk masuk kelas pun berleha-leha dan hanya menunggu sms dari temannya. Hal ini jelas akan berdampak pada tingkat produktivitas proses belajar, dan tentunya tindakan ini jelas sangat tidak mneghormati sang dosen.
Sudah seyogyanya mahasiswa yang di masa depan menjadi harapan bangsa ini mencapai kesejahteraan, bersikap selayaknya mahasiswa, rajin belajar, tekun, ulet, pekerja keras, memiliki mental baja, pantang menyerah dan tentunya jujur.

Analisis Isi, wacana, framing, etc

Analisis Isi
Analisis isi (Content Analysis) adalah tekhnik penelitian untuk membuat inferensi – inferensi yang dapat ditiru (replicable), dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi. Logika dasar dalam komunikasi, bahwa setiap komunikasi selalu berisi pesan dalam sinyal komunikasinya itu, baik berupa verbal maupun nonverbal. Sejauh ini, makna komuniaksi menjadi amat dominan dalam setiap peristiwa komunikasi.
Sebenarnya analisis isi komunikasi amat tua umurnya, setua umur manusia. Namun, panggunaan teknik ini diintoduksikan di bawah nama analisis isi (content analysis) dalam metode penelitian tidak setua umur penggunaan istilah tersebut. Tuanya umur penggunaan analisis isi dalam praktik kehiudupan menusia terjadi karena sejak ada manusia di dunia, manusia saling menganalisis makna komunikasi yang dilakukan antara satu dengan lainnya. Gagasan untuk menjadikan analisis isi sebagai teknik penelitian justru muncul dari orang seperti Bernard Berelson (1959). Ia telah menaruh banyak perhatian pada analisis isi.
Berelson mendefinisikan analisis isi dengan: content anlysis is a research technique for the objective, systematic, and quantitative description of the manifest content of communication. Tekanan Berelson adalah menjadikan analisis isi sebagai teknik penelitian yang objektif, sistematis, dan deskripsi kuantitatif dari apa yang tampak dalam komunikasi. Kendatipun banyak kritik yang dapat kita sampaikan pada definisi Berlson sehubungan perkembangan analisis isi sampai hari ini, namun catatan mengenai objektif dan sistematik dalam menganalisis isi komunikasi yang tampak dalam komunikasi, menjadi amat penting utnuk dibicarakan saat ini.
Analisis isi dapat di pergunakan pada teknik kuantitatif maupun kualitatif, tergantung pada sisi mana peneliti memanfaatkannya. Dalam penelitian kualitatif, Analisis Isi ditekankan pada bagaimana peneliti melihat keajekan isi komunikasi secara kualitatif, pada bagaimana peneliti memaknakan isi komunikasi, membaca simbol-simbol, memaknakan isi interaksi simbolis yang terjadi dalam komunikasi.
Karya-karya besar dalam penelitian kualitatif tentang penggunaan analisis isi seperti yang dilakukan oleh Max Weber dalam bukunya The proestant ethic dan the spirit of capitalism. Dalam karya ini Max Weber berusaha menentukan apa yang di maknakan dengan “Spirit of capitalism” terutapa dari apa yang di tulis oleh Benyamin Franklik. Namun, Weber lebih banyak bertitik tolak dari kasus-kasus konkret yang bertujuan untuk menciptakan tipe-tipe ideal (ideal types) dari sekadar menghasilkan suatu deskripsi objektif dan sistematis dari tulisan Franklin. Jadi, dalam menyifatkan “Protestan ethic dan spirit of capitalism”, maka Weber mengkaji isi tulisan Franklin secara ideal. Hal ini dilakukan dengan sengaja karena Weber tidak percaya bahwa realitas historis adalah seperti yang dideskripsikan dalam tipe-tipe ideal yang diciptakan, seperti ascetism, rational organization of labour, dan lainnya.
Selain itu penggunaan analisis isi tidak berbeda dengan penelitian kualitatif lainnya. Hanya saja, karena teknik ini dapat digunakan pada pendekatan yang berbeda (baik kuantitatif maupun kualitatif), maka penggunaan analisis isi tergantung pada kedua pendekatan itu. Penggunaan analisis isi untuk penelitian kualitatif tidak jauh berbeda dengan pendekatan lainnya. Awal mula harus ada fenomena komunikasi yang dapat diamati, dalam arti bahwa peneliti harus lebih dulu dapat merumuskan dengan tepat apa yang ingin diteliti dan semua tindkan harus didasarkan pada tujuan tersebut.
Langkah berikutnya adalah memilih unit analisis yang akan di uji, memilih objek penelitian yang menjadi sasaran analisis. Kalau objek penelitan berhubungan dengan data-data verbal (hal ini umumnya ditemukan dalam analisis isi), maka perlu disebutkan tempat, tanggal, dan alat komunikasi yang bersangkutan. Namun, kalau objek penelitian berhubungan dengan pesan-pesan dalam suatu media, perlu di lakukan identifikasi terhadap pesan dan media yang mengantarkan pesan itu.
Penggunaan analisis isi dapat dilakukan sebagaimana pual W.Missing melakukan studi tentang “The Voice of America”. Analisis isi didahului dengan melakukan coding terhadap istilah-istilah atau penggunaan kata dan kalimat yang relevan, yang paling banyak muncul dalam media komunikasi. Dalam hal pemberian coding, perlu juga di catat konteks mana istilah itu muncul. Kemudian, dilakukan klasifikasi terhadap coding yang telah dilakukan. Klasifikasi dilakukan dengan melihat sejauh mana satauan makna berbungan dengan tujuan penelitian. Klasifikasi ini dimaksudkan untuk membangun kategori dari setiap klasifikasi. Kemudian, satuan makna dan kategori dianalisis dan di cari hubungan satu dengan lainnya untuk menemukan makna, arti, dan tujuan isi komunikasi itu. Hasil analisis ini kemudian dideskripsikan dalam bentuk draf laporan penelitian sebagaimana umumnya laporan penelitian.
Beberapa Bentuk Klasifikasi
Ada beberapa bentuk klasifikasi dalam analisis isi. Janis menjelaskan klasifikasi sebagai berikut:
1. Analisis isi pragmatis, dimana klasifikasi dilakukan terhadap tanda menurut sebab akibatnya yang mungkin. Misalnya, berapa kali suatu kata diucapkan yang dapat mengakibatkan munculnya sikap suka terhadap produk sikat gigi A.
2. Analisis isi semantik, di lakukan untuk mengklasifikasikan: tanda menurut maknanya. Analisis ini terdiri dari tiga jenis sebagai berikut:
1. Analisis penunjukan (designation), menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu (orang, benda, kelompok, atau konsep) dirujuk.
2. Analisis penyifatan (attributions), menggambarkan frekuensi seberapa sering karakterisasi dirujuk (misalnya referensi kepada ketidakjujuran, kenakalan, penipuan, dan sebagainya).
3. Analisis pernyataan (assertions), menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu dikarakteristikkan secara khusus. Analisis ini secara kasar di sebut analisis tematik. Contohnya, referensi terhadap perilaku nyontek di kalangan mahasiswa sebagai maling, pembohong dan sebagainya
1. Analisis sarana tanda (sign-vechile), dilakukan untuk mengklasifikasi isi pesan melalui sifat psikofisik dari tanda, misalnya berapa kali kata cantik muncul, kata seks muncul.
Dalam penelitian kualitatif, penggunaan analisis isi lebih banyak ditekankan pada bagaimana simbol-simbol yang ada pada komunikasi itu terbaca dalam interaksi sosial, dan bagimana simbol-simbol itu terbaca dan dianalisis oleh peneliti. Dan sebagaimana penelitian kualitatif lainnya, kredebilitas peneliti menjadi amat penting. Analisis isi memerlukan peneliti yang mampu menggunakan ketajaman analisisnya untuk merajut fenomena isi komunikasi menjadi fenomena sosial yang terbaca oleh orang pada umumnya.
Dapat dipahami bahwa makna simbol dan interaksi amat majemuk sehingga penafsiran ganda terhadap objek simbol tunggal umumnya menjadi fenomena umum dalam penelitian sosial. Oleh karena itu , analisis isi menjadi tantangan sangat besar bagi peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, pemahaman dasar terhadap kultur dimana komunikasi itu terjadi amat penting. Kultur ini menjadi muara yang luas terhadap berbagai macam bentuk komunikasi di masyarakat.
Pada penelitian kualitatif, terutama dalam strategi verifikasi kualiatif, teknik analisis data ini diangap sebagai teknik analisis data yang sering digunakan. Namun selain itu pula, teknik analisis ini dipandang sebagai teknik analisis data yang paling umum. Artinya, teknik ini adalah yang paling abstrak untuk menganalisis data-data kualitatif. Content analysis berangkat dari anggapan dasar dari ilmu-ilmu sosial bahwa studi tentang proses dan isi komunikasi adalah dasar dari studi-studi ilmu sosial. Deskripsi yang diberikan para ahli sejak janis (1949), Berelson (1952) sampai Lindzey dan Aronso (1968) tentang Content Anlysis, selalu menampilkan tiga syarat, yaitu: objektivitas, pendekatan sistematis, dan generalisasi.
Analisis isi sering digunakan dalam analisis-analisis verifikasi. Cara kerja atau logika analisis data ini sesungguhnya sama dengan kebanyakan analisis data kuantitatif. Peneliti memulai analisisnya dengan menggunakan lambang-lambang tertentu, mengklasifikasikan data tersebut dengan kriteria-kriteria tertentu serta melakukan prediksi dengan teknik analisis yang tertentu pula. Secara lebih jelas, alur analisis dengan menggunakan Teknik Content Analysis.


Analisis Wacana
Analisis wacana adalah analisis isi yang lebih bersifat kualitatif dan dapat menjadi salah satu alternatif untuk melengkapi dan menutupi kelemahan dari analisis isi kuantitatif yang selama ini banyak digunakan oleh para peneliti. Jika pada analisis kuantitatif, pertanyaan lebih ditekankan untuk menjawab “apa” (what) dari pesan atau teks komunikasi, pada analisis wacana lebih difokuskan untuk melihat pada “bagaimana” (how), yaitu bagaimana isi teks berita dan juga bagaimana pesan itu disampaikan.
Analisis wacana merupakan suatu kajian yang digunakan secara ilmiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Penggunaan bahasa secara alamiah ini berarti penggunaan bahasa seperti dalam komunikasi sehari-hari. Stubbs menjelaskan bahwa analisis wacana menekankan kajian penggunaan bahasa dalam konteks sosial, khususnya dalam interaksi antar penutur. Senada dengan itu, cocok dalam hal ini menyatakan bahwa analisis wacana itu merupakan kajian yang membahas tentang wacana, sedangkan wacana itu adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Menurut Stubbs (Arifin,2000:8).
Analisis wacana dalam Sobur ( 2006:48) adalah studi tentang struktur pesan pada dalam komunikasi. Lebih tepatnya lagi, telaah mengenai aneka fungsi (prakmatik) bahasa. Kajian tentang pembahasaan realitas dalam sebuah pesan tidak hanya apa yang tampak dalam teks atau tuklisan, situasi dan kondisi (konteks) seperti apa bahasa tersebut diujarkan akan membedakan makna subyektif atau makna dalam perspektif mereka.
Crigler (1996) dalam Sobur (2006 : 72) mengemukakan bahwa analisis wacana termasuk dalam pendekatan konstruktionis. Ada dua karakteristik penting dari pendekatan konstruksionis yaitu :
1. Pendekatan konstruksionis menekankan pada politik pemaknaan dan proses bagaimana seseorang membuat gambaran tentang realitas politik.
2. Pendekatan konstruksionis memandang kegiatan komunikasi sebagai suatu proses yang terus menerus dan dinamis. Dari sisi sumber (komunikator), pendekatan konstruksionis memeriksa pembentukan bagaimana pesan ditampilkan, dan dari sisi penerima ia memeriksa bagaimana konstruksi individu ketika menerima pesan.
Kembali pada anilsa wacana yang sesungguhnya berusaha memahami bagaimana realitas dibingkai, direproduksi dan didistribusikan ke khalayak. Analisis ini bekerja menggali praktek-praktek bahasa di balik teks untuk menemukan posisi ideologis dari narasi dan menghubungkannya dengan struktur yang lebih luas. Dengan demikian analisis wacana merupakan salah satu model analisa kritis yang memperkaya pandangan khalayak bahwa ada keterkaitan antara produk media, ekonomi dan politik. Keterkaitan ini dapat dimunculkan pada saat analisis wacana bergerak menuju pertanyaan bagaimana bahasa bekerja dalam sebuah konteks dan mengapa bahasa digunakan dalam sebuah konteks dan bukan untuk konteks yang lain.
Pada dasarnya ada beberapa perbedaan mendasar antara analisis wacana dengan analisis isi yang bersifat kuantitatif adalah sebagai berikut. Analisis wacana lebih bersifat kualitatif daripada yang umum dilakukan dalam analisis isi kuantitatif karena analisis wacana lebih menekankan pada pemaknaan teks daripada penjumlahan unit kategori, seperti dalam analisis isi. Analisis isi kuantitatif digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang bersifat manifest (nyata), sedangkan analisis wacana justru memfokuskan pada pesan yang bersifat latent (tersembunyi).
Analisis isi kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan “apa yang dikatakan” (what), tetapi tidak dapat menyelidiki bagaimana ia dikatakan (how). Analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi, sedangkan analisis isi kuantitatif memang diarahkan untuk membuat generalisasi.
Analisis Semiotik (Semiotic Analysis)
Pengertian semiotika secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Eco, semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya. Menurut Eco, ada sembilan belas bidang yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan kajian untuk semiotik, yaitu semiotik binatang, semiotik tanda-tanda bauan, komunikasi rabaan, kode-kode cecapan, paralinguistik, semiotik medis, kinesik dan proksemik, kode-kode musik, bahasa yang diformalkan, bahasa tertulis, alfabet tak dikenal, kode rahasia, bahasa alam, komunikasi visual, sistem objek, dan sebagainya Semiotika di bidang komunikasi pun juga tidak terbatas, misalnya saja bisa mengambil objek penelitian, seperti pemberitaan di media massa, komunikasi periklanan, tanda-tanda nonverbal, film, komik kartun, dan sastra sampai kepada musik.
Berkenaan dengan hal tersebut, analisis semiotik merupakan upaya untuk mempelajari linguistik-bahasa dan lebih luas dari hal tersebut adalah semua perilaku manusia yang membawa makna atau fungsi sebagai tanda. Bahasa merupakan bagian linguistik, dan linguistik merupakan bagian dari obyek yang dikaji dalam semiologi. Selain bahasa yang merupakan representasi terhadap obyek tertentu, pemikiran tertentu atau makna tertentu, obyek semiotika juga mempelajari pada masalah-masalah non linguistik.
Salah seorang sarjana yang secara konservatif menjabarkan teori De de Saussure ialah RolandBarthes (1915 – 1980). Ia menerapkan model Ferdinand De Saussure dalam penelitiannya tentang karya -karya sastra dan gejala-gejala kebudayaan, seperti mode pakaian. Bagi Barthes komponen – komponen tanda penanda – petanda terdapat juga pada tanda -tanda bukan bahasa antara lainterdapat pada bentuk mite yakni keseluruhan si stem citra dan kepercayaan yang dibentukmasyarakat untuk memp-ertahankan dan menonjolkan identitasnya (de Saussure,1988).
Selanjutnya Barthes (1957 dalam de Saussure) menggunakan teori signifiant – signifie yang dikembangkan menjadi teori tentang metabaha sa dan konotasi. Istilah signifiant menjadi ekspresi (E) dan signifie menjadi isi (C). Namun Barthes mengatakan bahwa antara E dan C harus ada relasi (R) ter-tentu, sehingga membentuk tanda ( sign, Sn). Konsep relasi ini membuat teori tentang tanda lebih mungkin berkembang karena relasi ditetapkan oleh pemakai tanda.
Menurut Barthes, ekspresi dapat berkembang dan membentuk tanda baru, sehingga ada lebih dari satu dengan isi yang sama. Pengem-bangan ini disebut sebagai gejala meta -bahasa dan membentuk apa yang disebut kesinoniman (synonymy). Setiap tanda selalu memperoleh pemaknaan awal yang dikenal dengan dengan istilah denotasi dan oleh Barthes disebut sistem primer. Kemudian pengembangan -nya disebut sistem sekunder. Sistem sekunder ke arah ekspresi dise but metabahasa. Sistem sekunder ke arah isi disebut konotasi yaitu pengembangan isi sebuah ekspresi. Konsep konotasi ini tentunya didasari tidak hanya oleh paham kognisi, melainkan juga oleh paham pragmatik yakni pemakai tanda dan situasi pemahamannya.
Macam-macam Semiotik
Hingga saat ini, sekurang-kurangnya terdapat sembilan macam semiotik yang kita kenal sekarang (Pateda, dalam Sobur, 2004). Jenis -jenis semiotik ini antara lain semiotik analitik, diskriptif, faunal zoosemiotic, kultural, naratif, natural, normatif, sosial, struktural.
1. Semiotik analitik merupakan semiotik yang menganalisis sistem tanda. Peirce mengatakan bahwa semiotik berobjekkan tanda dan menganalisisnya menjadi ide, obyek dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna adalah beban yang terdapat dalam lambang yang mengacu pada obyek tertentu.
2. Semiotik deskriptif adalah semiotik yang memperhatikan sistem tanda yang dapat kita alami sekarang meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang.
3. Semiotik faunal zoosemiotic merupakan semiotik yang khusus memper hatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan. Semiotik kultural merupakan semiotik yang khusus menelaah system tanda yang ada dalam kebudayaan masyarakat.
4. Semiotik naratif adalah semiotik yang membahas sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan c erita lisan (folklore).
5. Semiotik natural atau semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam. Semiotik normative merupakan semiotik yang khusus membahas sistem tanda yang dibuat oleh manusia yang berwujud norma-norma.
6. Semiotik sosial merupakan semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud lambang, baik lambang kata maupun lambing rangkaian kata berupa kalimat. Semiotik struktural adalah semiotik yang khusus menelaah system tanda yang dimanifestasikan melalui struktur bahasa.
Analisis Framing
Analisa Framing adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui bagaimana realitas (aktor, kelompok, atau apa saja) dikonstruksi oleh media (Eriyanto, 2005, p.3). Analisa framing memiliki dua konsep yakni konsep pskiologis dan sosiologis. Konsep psikologis lebih menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi pada dirinya sedangkan konsep sosiologis lebih melihat pada bagaimana konstruksi sosial atas realitas. Analisis Framing sendiri juga merupakan bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian tentang wacana persaingan antar kelompok yang muncul atau tampak di media.
Analisis Framing juga dikenal sebagai konsep bingkai, yaitu gagasan sentral yang terorganisasi, dan dapat dianalisis melalui dua turunannya, yaitu simbol berupa framing device dan reasoning device. Framing device menunjuk pada penyebutan istilah tertentu yang menunjukkan “julukan” pada satu wacana, sedangkan reasoning device menunjuk pada analisis sebab-akibat. Di dalamnya terdapat beberapa ‘turunan’, yaitu metafora, perumpamaan atau pengandaian. Catchphrases merupakan slogan-slogan yang harus dikerjakan. Exemplar mengaitkan bingkai dengan contoh, teori atau pengalaman masa silam. Depiction adalah “musuh yang harus dilawan bersama”, dan visual image adalah gambar-gambar yang mendukung bingkai secara keseluruhan. Pada instrumen penalaran, Roots memperlihatkan analisis sebab-akibat, Appeals to principles merupakan premis atau klaim moral, dan Consequences merupakan kesimpulan logika penalaran.
Teknik Framing Dan Konsep Model Zhondhang Pan Dan Gerald M Kosicki
Menurut Etnman, framing berita dapat dilakukan dengan empat teknik, yakni pertama, problem identifications yaitu peristiwa dilihat sebagai apa dan nilai positif atau negatif apa, causal interpretations yaitu identifikasi penyebab masalah siapa yang dianggap penyebab masalah, treatmen rekomnedations yaitu menawarkan suatu cara penanggulangan masalah dan kadang memprediksikan penanggulannya, moral evaluations yaitu evaluasi moral penilaian atas penyebab masalah.
Ada dua konsep framing yang saling berkaitan, yaitu konsep psikologis dan konsep sosiologis yaitu :
1. Dalam konsep psikologis, framing dilihat sebagai penempatan informasi dalam suatu konteks khusus dan menempatkan elemen tertentu dari suatu isu dengan penempatan lebih menonjol dalam kognisi seseorang. Elemen-elemen yang diseleksi itu menjadi lebih penting dalam mempengaruhi pertimbangan seseorang saat membuat keputusan tentang realitas.
2. Sedangkan konsep sosiologis framing dipahami sebagai proses bagaimana seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas diluar dirinya Dalam Zhondhang Pan Dan Gerald M Kosicki, kedua konsep tersebut diintegrasikan.
Secara umkum konsepsi psikologis melihat frame sebagai persoalan internal pikiran seseorang, dan konsepsi sosiologis melihat frame dari sisi lingkungan sosial yang dikontruksi seseorang. Dalam model ini, perangkat framing yang digunakan dibagi dalam empat struktur besar, yaitu sintaksis (penyusunan peristiwa dalam bentuk susunan umum berita), struktur skrip (bagaimana wartawan menceritakan peristiwa ke dalam berita), struktur tematik (bagaimana wartawan mengungkapkan pandangannya atas peristiwa ke dalam proposisi, kalimat, atau antar hubungan hubungan kalimat yang memberntuk teks secara keseluruhan), dan struktur retoris (bagaimana menekankan arti tententu dalam berita)
Analisa Kebijakan Redaktur
Kebijakan sendiri merujuk pada tiga hal yakni sudut pandang (point of view); rangkaian tindakan (series of actions) dan peraturan (regulations). Ketiga hal tersebut menjadi pedoman bagi para pengambil keputusan untuk menjalankan sebuah kebijakan. Dan seorang Redaktur merupakan suatu pimpinan sekaligus penanggung jawab dalam suatu media. Oleh karenanya Analisa Kebijakan Redaktur merupakan suatu proses analisa mengenai kebijakan redaktur dalam proses penerbitan suatu media.
Dalam proses analisa kebijakan, terdapat dua pendekatan yaitu:
1. Analisis proses kebijakan (analysis of policy process), dimana dalam pendekatan ini, analisis dilakukan atas proses perumusan, penentuan agenda, pengambilan keputusan, adopsi, implementasi dan evaluasi dalam proses kebijakan. Jika dilihat dari item analisisnya, pendekatan ini lebih melihat kandungan (content) sebuah proses kebijakan.
2. Analisis dalam dan untuk proses kebijakan (analysis in and for policy process), dimana dalam pendekatan ini, analisis dilakukan atas teknik analisis, riset, advokasi dalam sebuah proses kebijakan. Nampaknya, pendekatan ini cenderung melihat prosedur proses kebijakan. Hasil analisis kebijakan adalah informasi yang relevan bagi pihak-pihak yang akan melaksanakan kebijakan. Analisis bisa dilakukan pada semua tahap proses kebijakan Analisis pada tahap selanjutnya mencakup interpretasi dan sosialisasi kebijakan, merencanakan serta menyusun kegiatan implementasi kebijakan. Hasil analisis pada tahap ini adalah aksi kebijakan (policy action).
3. Analisis berikutnya adalah evaluasi implementasi kebijakan dengan memperhatikan tingkat kinerja dan dampak sebuah implementasi kebijakan. Hasil analisisnya berupa informasi kinerja yang akan menjadi dasar tindakan apakah kebijakan tersebut akan diteruskan atau sebaliknya.
Tipe Analisis Kebijakan
Tipe analisis kebijakan dikategorikan menjadi dua tipe yaitu:
1. Tipe analisis akademis. Tipe analisis ini berfokus pada hubungan antara faktor determinan utama dengan isi kebijakan dan berusaha untuk menjelaskan hakikat, karakteristik dan profil kebijakan dan bersifat komparatif baik dari segi waktu maupun segi subtansi.
2. Tipe analisis terapan. Tipe analisis ini lebih memfokuskan diri pada hubungan isi kebijakan dengan dampak kebijakan serta lebih berorientasi pada evaluasi kebijakan dan bertujuan untuk menemukan alternatif lebih baik dan bisa menggantikan kebijakan yang sedang dianalisis.
Elemen dalam Kebijakan yang Menjadi target analisis
Terdapat tiga elemen dalam kebijakan yang menjadi target analisis, yakni:
1. faktor determinan utama;
2. isi kebijakan; dan
3. dampak kebijakan baik yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan.
Analisa Korelasional
Analisa Korelasional adalah analisa yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Analisa korelasional/hubungan/assosiasi dapat dikatakan merupakan pengembangan dari analisa deskriptif (untuk selanjutnya baca : deskriptif-kuantitatif), kalau dalam penelitia deskriptif kita mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, menyusunya dengan sistematis, kita analisa dengan cermat dan yang dideskripsikan dalam analisis penelitian adalah variabel-variabel penelitian, situasi dan kondisi yang melingkupinya. Penelitian korelasional bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar gejala (variabel), hubungan tersebut positif atau negatif dan seberapa erat hubungan antar gejala tersebut.
Misalnya pengusaha ingin mengetahui hubungan antara muatan informasi (kecukupan/kekurangan informasi) dan kebutuhan akan informasi, Divisi Humas ingin mengetahui hubungan antara kualitas media (daya tarik untuk dibaca, sesuai dengan kebutuhan, terpercaya, mudah dipahami, lengkap dan jelas dsb) dan motif pengunaan media, dosen ingin mengetahui hubungan antara pemberian tugas dengan prestasi mahasiswa dsb.
Terdapat beberapa perbedaan yang membedakan Analisa Korelasional dan Analisa Deskriptif yaitu bahwa dalam analisa deskriptif tidak membahas tentang hubungan antar variabel, sedangkan kalau kita lihat dari jenis datanya sama, yang membedakan adalah sifat-sifat analisanya, analisa deskripsi mendeskripsikan variabel dan karakteristik responden, sedangkan analisa korelasional meneliti bagaimana untuk memperoleh kejelasan ada tidaknya hubungan antar variabel dan karakteristik responden seperti apa dalam konteks penelitian tersebut. Statistik deskripsi tidak berupaya adanya generalisasi data sampel terhadap populasi, sedangkan analisis korelasional selain mendesripsikan data sampel, peneli ingin memperoleh kesimpulan apakah korelasi (yang sebenarnya data sampel) tersebut juga berlaku pada populasi (dengan uji signifikansi).
Perbedaan tersebut dapat terlihat dari analisa deskriptif kita mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, menyusunya dengan sistematis, kita analisa dengan cermat dan yang dideskripsikan dalam analisis penelitian adalah variabel-variabel penelitian, situasi dan kondisi yang melingkupinya. Analisa korelasional bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar gejala (variabel), hubungan tersebut positif atau negatif dan seberapa erat hubungan antar gejala tersebut. Misalnya pengusaha ingin mengetahui hubungan antara muatan informasi (kecukupan/kekurangan informasi) dan kebutuhan akan informasi, Divisi Humas ingin mengetahui hubungan antara kualitas media (daya tarik untuk dibaca, sesuai dengan kebutuhan, terpercaya, mudah dipahami, lengkap dan jelas dsb) dan motif pengunaan media, dosen ingin mengetahui hubungan antara pemberian tugas dengan prestasi mahasiswa dsb.
Statistik deskripsi tidak berupaya adanya generalisasi data sampel terhadap populasi, sedangkan analisis korelasional selain mendesripsikan data sampel, peneli ingin memperoleh kesimpulan apakah korelasi (yang sebenarnya data sampel) tersebut juga berlaku pada populasi (dengan uji signifikansi). Penelitian korelasi (secara statistik) menunjukkan adanya ko-variasi (sebaran data yang sama) antar variabel, apakah variasi-variasi pada satu faktor berkaitan dengan variasi pada faktor yang lain, yang mana hubungan tersebut kemungkinan merupakan :
1. “ ko-variasi antar variabel dari penyebab (dependen) yang sama”
2. “ko-variasi antar variabel akibat (independent)” , atau
3. atau mungkin korelasi tersebut sifatnya “hanya kebetulan saja”. Untuk memperoleh informasi yang akurat tentang dugaan hubungan antar variabel tersebut dapat perpedoman pada teori (konsep dan proposisi), model, atau melakukan penelitian secara intensif dan mendalam.
Penelitian asosiasi atau korelasi sering dikaburkan dengan penelitian/analisis causal (sebab-akibat), korelasi yang kuat dianggap adanya hubungan sebab-akibat. Hubungan kausal dapat diinterpretasikan pasti “ada hubungan” yang sifatnya kausalitas, tetapi kalau “ada hubungan” belum tentu adanya kausalitas. Kita sering terjebak dengan proses berfikir yang nampaknya logis atau cara berfikir linier, hal inilah yang perlu dicermati, khususnya dalam perumusan masalah. Jika ada kesalahan dalam membuat perumusan masalah, alih-alih pertanyaan yang salah tentang obyek yang kita teliti tidak akan menghasilkan jawaban yang benar.
Sebagai Contoh, pernyataan :
1. Pengaruh “kemampuan membaca” terhadap “lamanya belajar Mahasiswa”
2. Hubungan antara “kemampuan membaca”dengan “lamanya belajar Mahasiswa”
3. Pengaruh “kemampuan membaca” dan “lamanya belajar Mahasiswa” terhadap “Tingkat Pengetahuan Mahasiswa tentang Metode Penelitian Komunikasi”.
Adanya hubungan antara “kemampuan membaca” dan “lamanya belajar” jangan diinterpretasikan bahwa “lamanya belajar” disebabkan oleh “kemampuan membaca”. Atau “Lamanya Belajar” diakibatkan oleh “ Kemampuan membaca”. Mahasiswa yang “lama belajar” belum tentu atau bukan karena “kemampuan membacanya yang kurang”, tetapi (diduga) karena akan mengikuti UTS, karena ingin bisa, lagi tertarik dsb. Bandingkan dengan; Pengaruh “kemampuan membaca” dan “ lamanya belajar” terhadap “Tingkat Pengetahuan Mahasiswa tentang Metode Penelitian Komunikasi”.
Jika kita perhatikan dengan seksama, dari ketiga pernyataan tersebut yang secara logika mana yang lebih dapat diterima dan benar. Dengan demikian tipe hubungan antar variabel dalam penelitian korelasional adalah hubungan simetri, adalah jenis hubungan antar variabel yang mana suatu variabel yang satu tidak disebabkan oleh variabel yang lain atau tidak dipengaruhi oleh variabel yang lain.
Hal ini dapat terjadi apabila :
1. Kedua variabel tersebut merupakan dimensi/indikator untuk konsep yang sama, misalnya : Hubungan antara frekuensi penggunaan media, durasi (lama), pilihan jenis media dan jenis isi sebagai indikator dari pola penggunaan media dsb.
2. Sebagai akibat dari faktor yang sama, Misalnya; Penguasaan materi, lulus mata kuliah, IP bagus sebagai akibat yang sama karena rajin membaca/belajar dsb.
3. Berkaitan secara fungsional, apabila keberadaan sesuatu hal diikuti oleh keberadaan yang lainnya atau sebaliknya. Misalnya : ada mahasiswa ada dosen, ada asap – ada api, ada pekerja – ada majikan, ada pimpinan – ada bawahan, dsb.
4. Hubungan yang sifatnya kebetulan saja. Misalnya; hubungan mimpi buruk dengan kehilangan HP, hubungan berkokok-nya ayam dengan terbitnya matahari, dsb.
Analisis Data dalam Analisa Korelasional
Dalam melakukan analisis data yang perlu diperhatikan adalah :
1. Masalah dan Tujuan penelitian;
2. Hubungan antar variabel (hipotesis penelitian) yang dalam analisa statistik sebagai hipotesis statistik (Ho dan H1);
3. Jenis informasi dan jenis data; apakah data yang kita peroleh sebagai data nominal, ordinal, interval atau rasio;
4. Kesesuaian antara jenis data dengan jenis analisa statistik yang digunakan;
5. Taraf signifikansi (α) atau tingkat kepercayaan (1- α);
6. Berbagai variasi analisis data berdasarkan kebutuhan dsb. Alat analisis korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan dua atau lebih variabel. Korelasi antar dua variabel disebut korelasi sederhana, dan korelasi lebih dari dua variabel disebut korelasi berganda (multiple Correlation). Sehingga alat anlisa ada rumus untuk menghitung korelasi sederhana dan berganda.
Berbagai variasi alat analisa korelasi tergantung dari hubungan antar variabel dan jenis data, apakah nominal, ordinal atau interval dan tujuan penelitian kita.
Daftar Pustaka:
Al Rasyid, Harun, 2000, Hand out Statistik Sosial, PPS UNPAD, Bandung.
Alex Sobur, Analis is Teks Media…..hal 172
Bungin, Burhan, 2008, Penelitian Kualitatif, Jakarta: Kencana prenada media group, hlm. 155 – 156.
Bungin, Burhan, 2008, Penelitian Kualitatif, Jakarta: Kencana prenada media group, hlm. 156 – 159.
Dajan, Anto, 1996, Pengantar Statistik Jilid I, LP3ES, Jakarta.
Dajan, Anto,1996, Pengantar Statistik Jilid II, LP3ES, Jakarta .
Kriyantono, Rachmat, 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi, Jakarta: Kencana prenada media group, hlm.247-251
Rakhmat ,Jalaludin, 1999, Metode Penelitian Komunikasi, Rosdakarya, Bandung .
Sudradjat M,2002, Metode Penarikan Sampel dan Penyusunan Skala, UNPAD Bandung.
Wimmer D. Roger, 1987, Mass Media Research, Wadsworth Publisher Company, Belmont, California .
Online :
Perpustakan online Uniersitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Perpustakan online Universitas Kristen Petra
Perpustakan online Universitas Mercu Buana

beasiswa RP800M siap dikucurkan

BEASISWA RP.800 MILIAR BAGI 20.000 MAHASISWA 2010 [Form. Pendaftaran]

Desember 19, 2009

tags: beasiswa, depdiknas, perguruan tinggi

by nusantaraku

Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran. Hak setiap warga Negara tersebut telah dicantumkan dalam Pasal 31 (1) Undang-Undang Dasar 1945. Berdasarkan pasal tersebut, maka Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi, dan masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu diperlukan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu bagi setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya kurang mampu membiayai pendidikannya, dan berhak mendapatkan beasiswa bagi mereka yang berprestasi.

Realitas menunjukkan bahwa banyak lulusan SMA/SMK/MA/ sederajat yang berprestasi dan merupakan calon mahasiswa yang potensial tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi karena berasal dari keluarga kurang mampu. Selain itu peningkatan akses informasi terhadap sumber pendanaan masih sangat terbatas. Upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan menyusun database siswa jenjang pendidikan menengah yang cerdas dan kurang mampu serta memfasilitasi dan atau menyediakan beasiswa dan biaya pendidikan.

Undang-Undang 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab V pasal 12 (1.c), menyebutkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya kurang mampu membiayai pendidikannya. Pasal 12 (1.d), menyebutkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya kurang mampu membiayai pendidikannya.

Berbagai macam beasiswa oleh pemerintah, misalnya PPA, BBM, PPE, dan BMU, telah diberikan kepada mahasiswa. Akan tetapi jumlah dana yang diberikan masih belum dapat memenuhi kebutuhan biaya pendidikan dan biaya hidup mahasiswa, sehingga belum menjamin keberlangsungan studi mahasiswa hingga selesai. Berdasarkan pada amanat UU itupula, maka pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – Departemen Pendidikan Nasional mulai tahun 2010 memberikan beasiswa dan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi dan berprestasi yang disebut Beasiswa Bidik Misi.

Persyaratan

Persyaratan untuk mendaftar program beasiswa BIDIK MISI tahun 2010 adalah:

1. Siswa SMA/SMK/MA/MAK atau bentuk lain yang sederajat yang dijadwalkan lulus pada tahun 2010;

2. Berprestasi dan orang tua/wali-nya kurang mampu secara ekonomi;

3. Calon penerima beasiswa mempunyai prestasi akademik/ kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler yang diketahui oleh Kepala Sekolah/ Pimpinan Unit Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Kabupaten/Kota. Adapun prestasi akademik/kurikuler yang dimaksud adalah peringkat 25 persen terbaik di kelas, sedangkan prestasi pada kegiatan ko-kurikuler dan/atau ekstrakurikuler minimal peringkat ke-3 di tingkat Kabupaten/Kota dan harus sesuai dengan program studi yang dipilih.

Nilai & Jangka Waktu Beasiswa

Nilai Beasiswa : Rp 10 juta per tahun

Jangka Waktu : 8 semester untuk program S1/D IV dan 6 semester untuk D III

Program beasiswa Bidik Misi ini akan diberikan kepada 20.000 mahasiswa dan atau calon mahasiswa dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu dan berprestasi, baik di bidang akademik/kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstrakurikuler. Dana beasiswa dan biaya pendidikan yang diberikan adalah sebesar Rp 5.000.000 (lima juta rupiah) per mahasiswa per semester yang diprioritaskan untuk biaya hidup. Artinya, setiap mahasiswa yang lulus seleksi beasiswa ini akan mendapat minimal Rp 10 juta per tahun.

Ini berarti, total anggaran per tahun beasiswa Dikti ini mencapai Rp 200 miliar. Beasiswa ini diperuntukkan hingga mahasiswa itu lulus (8 semester untuk S1 atau D IV) yang bila dijumlahkan mencapai kurang lebih Rp 800 miliar (karena ada program 6 semester untuk D III).

Pendaftaran

Bagi yang memenuhi persyaratan di atas, calon mahasiswa 2010 (atau siswa kelas XII SMA) dapat mulai melakukan pendaftaran beasiswa tersebut. Berikut beberapa langkah pendaftaran beasiswa tersebut.

1. Calon mahasiswa memilih program pendidikan Diploma III, Diploma IV dan Sarjana pada perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi BHMN terpilih (silahkan download Lampiran 82 PTN Depdiknas dan 22 PTN Depag program beasiswa);

2. Berhubung jadwal pendaftaran calon mahasiswa baru di perguruan tinggi penyelenggara tidak bersamaan, maka setiap calon mahasiswa diharuskan memperhatikan jadwal pendaftaran di setiap perguruan tinggi yang dipilih;

3. Setiap calon mahasiswa dapat memilih maksimal dua program studi, baik dalam satu perguruan tinggi atau di dua perguruan tinggi yang berbeda.

4. Kepala Sekolah/Pimpinan Unit Dikmas dari siswa yang memenuhi persyaratan melakukan pendaftaran secara kolektif, untuk siswa/peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya, kepada Rektor/Ketua/Direktur atau pimpinan perguruan tinggi penyelenggara yang dituju dengan melampirkan berkas sebagai berikut:

Berkas-berkas yang dilengkapi oleh siswa

1. Formulir pendaftaran yang telah diisi oleh siswa yang bersangkutan dan dilengkapi dengan pasfoto ukuran 3×4 sebanyak 3 (tiga) lembar. Silahkan download formulir pendaftaran di sini.

2. Fotokopi Kartu Tanda Siswa (KTS) atau yang sejenis sebagai bukti siswa aktif;

3. Fotokopi rapor semester 1 s/d 5 disertai surat keterangan tentang peringkat siswa di kelas dan bukti pendukung prestasi lain di bidang keilmuan/akademik yang disahkan (legalisasi) oleh kepala sekolah/ pimpinan unit Dikmas;

4. Fotokopi Kartu Keluarga Miskin. Bagi keluarga yang tidak memiliki kartu Keluarga Miskin, harus menyertakan Surat Keterangan Penghasilan Orang tua/wali atau Surat Keterangan Tidak Mampu yang dapat dibuktikan kebenarannya, yang dikeluarkan oleh kepala desa/kepala dusun/Instansi tempat orang tua bekerja/tokoh masyarakat;

5. Fotokopi Kartu Keluarga;

6. Jika diperlukan dapat menyertakan bukti pendukung lain seperti fotokopi rekening listrik bulan terakhir (apabila tersedia aliran listrik) dan atau bukti pembayaran PBB dari orang tua/wali-nya.

Berkas yang dilengkapi oleh Sekolah/Unit Dikmas

1. Rekomendasi dari Kepala Sekolah/Pimpinan Unit Dikmas yang memberikan keterangan bahwa pendaftar adalah siswa berprestasi yang orang tua/wali-nya kurang mampu;

2. Daftar nama pelamar ke perguruan tinggi penyelenggara yang dituju.

Dokumen Lain

Untuk dokumen dan informasi lain, silahkan download link dibawah ini.

* Formulir Pendaftaran Beasiswa BIDIK MISI Dikti 2010

* Panduan (Termasuk Lampiran 82 PTN Depdiknas dan 22 PTN Depag)

* Informasi Lainnya dapat dilihat di

Catatan kritis: Dalam lampiran Panduan Beasiswa Dikti hanya tercantum kuota 19.500 beasiswa, padahal dalam isi panduannya tercantum 20.000 beasiswa. Ada 500 kuota atau senilai Rp 20 miliar yang tidak dialokasikan. Kemanakah 500 kuota tersebut? Surat aduan mengenai angka ini sudah saya sampaikan ke admin situs dikti.

Salam Nusantaraku,

ech-wan, 19 Des 2009

Catatan (Jawaban):

Beasiswa ini diprioritaskan untuk siswa lulusan 2010 yang masuk perguruan tinggi pada tahun 2010. Namun, bagi para siswa lulusan 2009 dapat mengajukan beasiswa tersebut melalui sekolah lulusan adik-adik. Trims.

http://nusantaranews.wordpress.com

Mega Proyek di Indonesia-Ku

Siapa bilang Indonesia merupakan neggara yang tertinggal dalam hal pembangunan.coba lo liat beberamega proyek yang sedang dan akan dibangun dibawah ini.mega proyek ini nantinya bakalan menjadi yang “Ter” di Dunia.

Jembatan Suramadu

Suramadu

Tanggal 10 Juni 2009 merupakan hari paling bersejarah bagi dua pulau yang berseberangan ini, yaitu Surabaya (Pulau Jawa) dan Pulau Madura. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah meresmikan sebuah jembatan diantara kedua pulau tersebut yaitu Jembatan Suramadu dengan panjang 5,4 Km (terpanjang di Indonesia) yang menghabiskan biaya sebesar 4,5 triliun.

Theme Park Trans Studio World Makassar

Theme Park

Theme Park yang terletak di Makasar, Sulawesi ini akan menjadi Theme Park Indoor terbesar di Dunia. Memiliki lebih dari 20 wahana permainan dan dilengkapi berbagai fasilitas seperti Mall, Restoran, Hotel, dan Marina. Separuh pembangunan telah selesai 2009 ini, dan masih berlanjut hingga 2010. Theme Park Trans Studio World Makassar mengadopsi konsep Universal Studio di Amerika Serikat.

Menara Jakarta

tower6ih4

Menara Jakarta adalah sebuah menara baru yang dibangun di area Bandar Baru Kemayoran, Jakarta. Menara ini akan menjadi Menara tertinggi di Indonesia, sekaligus di Dunia dengan ketinggian 558 meter dan direncanakan akan selesai pada tahun 2010 atau 2011.

Bandingkan menara-menara berikut :

tower1

Dari Kiri ke Kanan: Menara Malaysia, Menara Shanghai Pearl, Menara Toronto, Menara Jakarta.

Menara Jakarta rencananya akan dilengkapi dengan fasilitas:* Restoran berputar
* Mal besar
* Hotel
* Pusat pameran
* Pusat pendidikan dan pelatihan
* Pusat multimedia disertai pemancar siaran radio dan televisi
* Pusat perdagangan dan bisnis
Mega Proyek Universitas Indonesia
ui

Indonesia bakal memiliki perpustakaan termodern, terbesar dan terindah di dunia yang akan berlokasi Universitas Indonesia (UI) Depok di areal seluas 2,5 hektar. Gedung perpustakaan UI dirancang dengan konsep “sustainable building” kebutuhan energi menggunakan sumber terbaru yaitu Energi Matahari.

Area baru tersebut bebas asap rokok, hijau serta hemat listrik, air dan kertas. Hal inilah yang menjadikan perpustakaan UI terbesar, termodern dan terindah di dunia.

Selain perpustakaan yang megah dan modern, kabarnya UI juga akan segera membangun Stasiun Kereta Termegah yang tergabung ke dalam rangkaian UI Mega Proyek. Bahan bangunannya pun dipercaya akan mengandung bahan-bahan alam yang ramah lingkungan. Hal ini terkait dengan konsep Green Campus-nya UI.

ui2

Dikabarkan proyeknya akan berjalan dari tahun 2009 ini tepat setelah perpustakaan megah selesai dibangun dan proyek ini akan berakhir pada tahun 2010.

Jembatan Sunda

jss1-300x243

Jembatan Selat Sunda merupakan salah satu Mega proyek pembuatan jembatan yang melintasi selat sunda dan juga sebagai penghubung antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Pembangunan jembatan selat sunda diperkirakan menelan biaya sebesar USD10 miliar atau 100 triliun Rupiah.

Jika dapat te-realisasi-kan jembatan selat sunda akan menjadi jembatan terpanjang di dunia dengan panjang 31 km dan lebar 60 m. Di rencanakan pembangunan jembatan selat sunda dimulai pada 2010 dan mulai dioperasikan pada tahun 2025.

nah sekarang bangga loe sama negeri loe……

http://dreamindonesia.wordpress.com

Kampung Inggris “PARE”

Program

Untuk memilih program yang tepat bagi anda, saya sarankan pilihlah program dibeberapa kursusan yang berbeda sesuai dengan spesialisasi/karakteristik kursusan yang bersangkutan. Untuk itu, saya bagi lembaga2 bahasa disana berdasarkan materinya, yaitu:

  1. Grammar (basic, translation, writing)

Untuk urusan yang satu ini saya punya dua nama, ELFAST dan SMART. Sejujurnya, saya tidak pernah belajar di smart namun saya siswa tulen nya elfast. Karakteristik kedua lembaga ini adalah ahli dalam urusan grammar (basic), namun elfast lebih ahli (terahli) dalam advance grammar plus langsung menerapkannya dalam materi translation dan writing. Perbedaan lainnya, di elfast lebih bersifat kuliahan yakni terserah kedewasaan anda dalam belajar dan memilih kelas, anda bisa melahap habis semua materi dalam 3-4 bulan (termasuk TOEFL) dengan mengambil dua program sebulannya. Saran saya ambil basic I dan II (bln I), translate dan writing (bln II), grammar school/bedah buku dan TOEFL (bln 3) dengan tidak mengambil kelas pre-grammar (sangat dasar) dan pre-TOEFL (kelas ini saya sarankan untuk di ikuti hanya jika anda tidak mengambil translation atau writing). Sedangkan di smart, lebih saklek. Salek yang pertama, pengambilan kelas harus terurut mulai dari awal dahulu, tidak bisa loncat atau ngambil dua sekaligus dan ada testing masuk, alhasil anda perlu minimal 4 bulan untuk 4 kelas dalam menamatkan studi disini. Saklek yang kedua, anda diharuskan menghafal materi termasuk certain word nya. Setiap hari anda harus setor hafalan kepada teacher anda. Namun demikian, saya kira tempat ini sangat bagus bagi anda yang perlu tekanan untuk belajar dan memiliki waktu luang. Saran saya, setelah anda beres belajar di smart, lanjutkan di elfast mulai dari translation sampai TOEFL.

  1. Speaking

Klo yang ini saya ga bisa ngomong banyak, karena saya hanya ikut satu kali kelas speaking di Marvellous. Namun, berdasarkan kabar temen2 disana, lembaga speaking yang termahsyur disana adalah DAFFODILS. Kabarnya, di tempat ini anda terpaksa dan dipaksa untuk berbicara di kelas sekemampuan anda. Alhasil anda terbiasa ng-english tanpa canggung ama yang namanya grammar… Grammar? Emang gue pikirin… gitu katanya…

  1. Pronunciation and Expression

Nah, untuk yang ini, MARVELLOUS is strongly recommended lah pokoknya… pengalaman sang president, Mr Tantowi, yang 5 tahun berpendidikan bahasa di Amrik jaminannya. Disini anda akan belajar cara ngomong mulai dari huruf, kata, sampe kalimat, weak n strong form dan banyak lagi sampe orang ga bakalan ngerti sama apa yang kamu ucapin…J disamping itu, expression asli made in Amrik nya banyak banget (bukan ekpresi Indonesia to English)… mulai ekspresi sopan dan santun sampe ekpresi ‘tiittt!!’… banyak tersedia disini.. Kalau bisa, sempatkan untuk ngekos disini biar dapat daily expressions yang melimpah.

  1. TOEFL

Klo TOEFL, balik lagi ke ELFAST. Duet sang jawara grammar, Mr Andre ama Mr Sonhaji, jadi jaminannya. Teope begete deh…

Umumnya setiap program diselenggarakan untuk lama belajar selama 1 bulan. Terdapat dua gelombang, yaitu gelombang pertama periode tanggal 10 setiap bulannya dan gelombang kedua periode tanggal 25. Jadi, jika anda berniat kesana, datanglah sebelum tanggal 10 dan 25. Penting untuk diketahui, pada musim liburan sekolah/kuliah, banyak sekali orang yang datang sehingga jangan heran kalau susah sekali mencari kosan yang kosong dan biasanya kuota program sudah habis sebelum tanggal 10 atau 25, so… cepat2lah daftar !! first come first serve…

Kosan

Kosan terbagi dalam setidaknya dua kategori. Pertama pure kosan, kedua kosan English area. Pure kosan maksudnya adalah kosan yang asli kosan, hehe…. Namun, anda bisa memilih mau ngekos di asrama pesantren ato di kosan biasa ato di kosan yang lengkap sama berbagai macam aturan. Klo English area, yaitu kosan yang juga memiliki program bahasa English, mulai dari kewajiban berbahasa inggris sehari-hari sampe kelas inggris seperti telah saya uraikan dalam ‘Program’. Kosan putra dan putri terpisah tentunya… yah… L

Biaya

Hhm… Loe pade bakalan terkejut klo dah nyampe urusan yang satu ini…. Berikut adalah data pada Desember 2007: (rata2)

Kursus perprogram : 80rb perbulan

Pure kosan : 50rb perbulan

English area : 100-150rb perbulan

Makan pagi (nasi pecel) : 1500-2500

Nasi ayam bakar : 4000

Nasi soto : 2500

Es jeruk : 1000

Bakso : 2500

Buah2n : 500

Alhasil, biaya total selama sebulan + 500 rb sudah termasuk minuman ringan (es jeruk dll), internet 3000/jam, dan buku2. Tips, belilah buku sebanyak2nya, harganya miring banget walau dibanding palasari sekalipun… tapi inget, pikirkan pulangnya….

Transportasi

  1. Menuju Pare

a. Kereta

Ekonomi Bandung – Kediri, tarif 38rb, lama + 17jam, berangkat sore sampai pagi (jangan lupa shalat di kereta, tayamum aja).

Dari stasiun Kediri, jalan kaki atau naik becak (max 5rb) ke jalan raya.

Kemudian naik angkot Kediri-Pare (ada tanda P dilingkari) + 25 km 6rb, turun di kantin Danis, Jl. Brawijaya (jangan mau ditawari di antar, mahal). Nah, sekarang anda telah berada di lingkungan Pare, selanjutnya nyari kosan. Untuk nyari kosan, bisa langsung nyari pake becak (jarang ada ojeg) atau jalan kaki. Atau anda titipkan dulu barang bawaan anda di tempat les yang dituju atau ke kontak/teman disana.

b. Bus

Bus Kramat Djati, 120rb, atau Pahala Kencana, 135rb, Bandung – Kediri. Berangkat sore sampai pagi. Katakan saja sama kendek, ‘Mau ke Pare’ nanti diturunkan di tempat yang dilalui angkot Kediri-Pare.

  1. Di Pare

Umumnya untuk transportasi disana, kita beli sepeda bekas aja. Harga sekitar 50-75 rb. Sepeda ini digunakan karena kosan-lesan1, lesan1-lesan2, dan seterusnya lumayan jauh untuk ukuran jalan kaki dengan cuaca yang cukup panas.

Fasilitas

Ngomong2, kampong ini dekat dengan kota kecamatan Pare sehingga fasilitasnya cukup lengkap. Jika anda les di Elfast, berarti anda sudah dekat ke Mesjid Agung Pare dan stadion sepakbola. Tinggal bersepeda sebentar, anda akan sampai di alun2 Pare, pasar, bank Mandiri, BRI dan BNI.

Fasilitas kolam renang dan fitness center pun dapat anda nikmati. Begitu pula dengan akses internet yang relative murah dan cepat.

Tips

Jangan sia-siakan waktu anda di Pare, rencanakan studi anda sependek mungkin. Lagi2 saya sarankan comot setiap program di setiap kursusan yang terbaik di bidangnya.

Acknowledgement

Herewith I would like to thank all of my Pare English teachers – Elfast: Mr. Andre, Sonhaji, Ahmed, Ahsan, Ms. Santi, Ani, Arin; Marvellous: Mr. Tantowi, Ms. Nimas; Ms. Ambar – and all of my Pare friends. Wish me luck…. J

Alamat

Elfast

Jl. Anggrek No. 17 Pare Telp: (0354) 399844 Pare, Kediri

Marvellous

Jl. Anyelir No. 18 Tulungrejo-Pare. 0888-318-4718 / 081-34567-0535

Daffodils

Jl. Dahlia No. 21 Pare. Telp/SMS: (0354) 7043450

diambil dari: http://dianayu.multiply.com Continue reading